Gerak Cepat Tangani Dampak Lahar Semeru, Kementerian PU Siagakan Personel dan Alat Berat
Teddy
Balai Pengembangan Kompetensi PU Wilayah VIII Makassar
LUMAJANG – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) bergerak cepat mengidentifikasi dampak banjir lahar dingin Gunung Semeru yang terjadi di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas, Kementerian PU melakukan inventarisasi kerusakan infrastruktur sumber daya air sekali
LUMAJANG – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) bergerak cepat mengidentifikasi dampak banjir lahar dingin Gunung Semeru yang terjadi di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas, Kementerian PU melakukan inventarisasi kerusakan infrastruktur sumber daya air sekaligus menyiagakan alat berat, personel, dan material untuk mendukung penanganan darurat.
Banjir lahar terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan puncak dan lereng Gunung Semeru. Berdasarkan laporan BBWS Brantas, curah hujan tercatat mencapai 134,6 milimeter dalam periode pengamatan pukul 00.00–06.30 WIB. Kondisi tersebut memicu peningkatan debit sungai yang membawa material vulkanik.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menegaskan bahwa keselamatan masyarakat dan pemulihan infrastruktur terdampak menjadi prioritas utama dalam penanganan bencana.
“Kementerian PU berkomitmen untuk menangani dampak bencana dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang ada. Keselamatan dan pemulihan warga terdampak menjadi prioritas utama kami,” ujar Dody.
Hasil identifikasi awal Satgas Penanggulangan Bencana BBWS Brantas menunjukkan sejumlah infrastruktur sumber daya air mengalami dampak akibat terjangan material lahar. Di antaranya tanggul beton pengendali banjir dan lahar pada proyek VDRRSL S4 KD 3 yang tertimbun material vulkanik, serta tiga bangunan sabo dam dan tanggul sungai di bawah jembatan gantung yang mengalami pengikisan (scouring).
Sebagai langkah awal, BBWS Brantas telah melakukan evakuasi personel dan peralatan proyek dari lokasi terdampak. Selain itu, penyiagaan alat berat dan bahan banjiran dilakukan untuk mendukung penanganan darurat setelah kondisi lapangan dinyatakan aman.
Kepala BBWS Brantas Muhammad Noor menyampaikan bahwa pihaknya terus melakukan pemantauan kondisi sungai serta berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Pos Pengamatan Gunung Api Semeru.
Pemantauan juga dilakukan di Sungai Regoyo, Daerah Aliran Sungai (DAS) Rejali, Wilayah Sungai (WS) Bondoyudo-Bedadung, tepatnya di Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro. Meskipun kondisi air sungai telah surut, potensi peningkatan debit masih perlu diwaspadai mengingat curah hujan di kawasan Gunung Semeru masih tinggi.
Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, penanganan darurat secara fisik belum dapat dilaksanakan karena situasi di lokasi masih berbahaya. Inventarisasi kerusakan dan kebutuhan penanganan terus dilakukan sebagai dasar mobilisasi alat berat, personel tanggap darurat, serta material yang diperlukan.
Kementerian PU juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas, guguran lava, dan aliran lahar. Berdasarkan rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Gunung Semeru berada pada Level III (Siaga).
Melalui langkah identifikasi, pemantauan, dan kesiapsiagaan sumber daya tersebut, Kementerian PU berkomitmen mempercepat penanganan dampak bencana serta memastikan infrastruktur pengendali banjir dan lahar dapat kembali berfungsi secara optimal demi keselamatan masyarakat.
#PU608 #SigapMembangunNegeriUntukRakyat #2TahunGerakNyata
Naskah warta ini disinkronisasi dari portal resmi Balai Pengembangan Kompetensi PU Wilayah VIII Makassar: /detailpost/gerak-cepat-tangani-dampak-lahar-semeru-kementerian-pu-siagakan-personel-dan-alat-berat